Badan Mengirim Surat Peringatan Lewat Tengkuk Kaku dan Lambung Mual, Kita Terus Membuangnya

Lebih dari separuh karyawan dunia mengalami kelelahan kerja kronis, dan tubuh sebenarnya sudah memberi tanda jauh sebelumnya. Tengkuk kaku dan lambung mual adalah surat yang sering dibuang begitu saja.

Bagikan cerita ini:
Peker kantoran kelelahan menatap layar laptop sebagai ilustrasi kelelahan kerja kronis

Pernahkah kamu pulang kantor dengan tubuh terasa habis sampai tulang punggung terasa kaku, lalu menyimpulkannya cuma kurang tidur? Banyak pekerja menyalahkan kelelahan pada hal-hal kecil, padahal tubuh sebenarnya sedang menyurati kita dengan tanda yang konsisten.

Suratnya tidak datang dalam amplop. Datangnya lewat tengkuk yang kaku sejak pagi, lambung yang mual setiap habis makan siang, dan rasa dingin yang sulit pergi meski ruangan ber-AC tidak terlalu dingin. Kebanyakan dari kita membuang surat itu, lalu minum kopi ketiga dan menyebutnya produktivitas.

Lebih dari Separuh Karyawan Diam-Diam Mengalami Kelelahan Kerja Kronis

Laporan SHRM 2025 Insights: Workplace Mental Health menemukan lebih dari 52% karyawan mengalami burnout atau kelelahan kerja kronis. Empat dari sepuluh pekerja bahkan mengakui pekerjaan mereka memberi dampak negatif bagi kesehatan mental.

Gen Z jadi kelompok paling rentan. Sebanyak 91% sering menghadapi tantangan kesehatan mental, dan 35% di antaranya mengalami depresi.

Yang lebih mengejutkan, sekitar 60% karyawan mengaku puas dengan pekerjaannya, tetapi tetap aktif mencari lowongan lain. Pakar Human Resources dari Human Care Consulting, Kartika Amelia, menyebutnya fenomena puas tetapi ingin keluar, sinyal tekanan mental yang menumpuk jadi pendorong utama perpindahan talenta di dunia kerja modern.

Di Indonesia, Survey Workplace Wellbeing Score Indonesia 2025 menempatkan kesejahteraan mental pekerja di angka 50,98%, di bawah rata-rata global 58,62%. Artinya pekerja kita bukan cuma lelah, tapi tingkat kelelahannya lebih parah daripada rekan di banyak negara lain.

Kondisi ini berdampak langsung pada produktivitas. Tidak sedikit pekerja yang secara fisik hadir di tempat kerja, tetapi secara mental sudah kehabisan tenaga. Angka absensi naik, performa turun, dan semua terlihat seperti masalah motivasi, padahal akarnya beban mental yang tidak pernah di kelola.

Tangan memegang tengkuk dan pundak yang tegang, ilustrasi sinyal fisik stres kerja
Foto oleh Kindel Media di Pexels

Tubuh Duluan Menyerah Sebelum Kita Mengakuinya

Tanda yang Sering Dianggap Cuma Biasa Saja

Dokter spesialis kesehatan jiwa dr. Muhammad Gatra Pratama menjelaskan burnout adalah kelelahan fisik dan emosional yang muncul akibat stres kronis berlangsung lama di lingkungan kerja. Kondisi ini umumnya muncul saat tuntutan pekerjaan tinggi tidak diimbangi waktu istirahat cukup dan dukungan lingkungan yang baik.

Orang yang mengalaminya merasa kehilangan energi, menjadi sinis terhadap pekerjaan, dan tidak lagi menikmati pekerjaan yang dulu disukai. Banyak yang menyalahkan motivasi, padahal yang habis justru cadangan tenaganya.

Coba amati sepekan terakhir. Kalau kamu mudah terganggu pada hal-hal yang biasa kamu toleransi, merasa Senin datang lebih cepat dari minggu sebelumnya, atau merasa hasil kerja tidak lagi membawa kepuasan meski masih sama, itulah wajah sinisme yang perlahan terbentuk.

Badan Mengirim Sinyal Lewat Tengkuk dan Lambung

Sinyal fisiknya cukup spesifik. Ketegangan di kepala dan pundak, gangguan lambung, sulit tidur, hingga menurunnya konsentrasi adalah bentuk komunikasi tubuh saat sedang berada di bawah tekanan psikologis yang tinggi.

Jika sinyal itu diabaikan terus-menerus, stres dapat berkembang menjadi burnout. Kalau kamu kerja sambil terus meneguk obat maag dan menganggap itu bagian dari rutinitas, mungkin bukan lambungnya yang bermasalah. Bisa jadi lambung hanya merespons tekanan yang tidak pernah kamu hentikan.

Banyak pekerja sudah merasakan tanda-tanda ini, tetapi tidak menyadarinya karena terbiasa memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan. Kebiasaan itu membuat sinyal tubuh dianggap biasa, padahal sebenarnya semakin sering muncul.

Seseorang menutup mata beristirahat santai sebagai ilustrasi pemulihan kesehatan mental
Foto oleh Yaroslav Shuraev di Pexels

Biaya Kelelahan yang Tidak Pernah Dihitung

Kartika Amelia menghitung kerugian turunnya produktivitas akibat stres kerja bisa mencapai US$300 hingga US$900 per karyawan per bulan. Sebagian besar perusahaan baru menyadari performa tim turun setelah kelelahan parah, karena tidak punya sistem deteksi dini terhadap stres.

Menurutnya, burnout bukan sekadar isu personal. Tanpa deteksi dini, perusahaan bisa kehilangan produktivitas senilai puluhan juta rupiah per karyawan setiap bulan.

Yang juga mudah disalahpahami, banyak pekerja secara fisik hadir di tempat kerja, namun secara mental mengalami kelelahan dan kehilangan semangat. Absensi naik, performa turun, dan semua terlihat seperti masalah motivasi, padahal akarnya beban mental yang tidak terkelola.

Kartika juga mengingatkan banyak perusahaan terlambat menyadari penurunan performa karyawan karena tidak memiliki sistem deteksi dini. Penurunan itu lebih sering disebabkan beban mental tidak terkelola daripada kemampuan yang benar-benar turun.

Skrining Sederhana yang Menghemat Puluhan Juta Rupiah

Sebagai solusi, Kartika mendorong penerapan Psychological Check-Up atau PCU, sistem skrining psikologis sederhana namun menyeluruh untuk mengukur tingkat stres, kecemasan, dan keseimbangan mental karyawan secara ilmiah.

Dari pengalaman HCC mengelola program PCU, hasilnya membuka pintu bagi intervensi yang tepat, seperti sesi konseling profesional oleh psikolog bersertifikat, pelatihan ketahanan mental, dan program kesejahteraan yang personal serta berbasis bukti.

Laporan Workplace Wellbeing Initiative Trends 2025 yang dikutipnya menyebut pendekatan berbasis data seperti PCU terbukti meningkatkan produktivitas hingga 20%, serta menurunkan angka absensi dan pergantian karyawan hingga 30%.

Pemantauan berkelanjutan lewat dashboard digital memungkinkan tindakan cepat dan adaptif. Membuka ruang untuk bicara dan memberikan dukungan ternyata tidak hanya meringankan beban mental karyawan, tetapi juga menciptakan budaya kerja yang aman secara psikologis.

Berani Mengatakan Tidak Termasuk Bentuk Kerja yang Baik

dr. Gatra melihat kebiasaan menganggap segala tugas sebagai kewajiban mutlak membuat banyak pekerja mengabaikan batas kemampuan dirinya sendiri. Sering kali orang takut mengatakan tidak terhadap pekerjaan yang diberikan, padahal justru itu yang menjaga kualitas kerja dan kesehatan mental.

Ia juga menegaskan kesadaran terhadap kesehatan mental penting agar seseorang dapat mengenali batas kemampuan dirinya, dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Coba hitung, berapa kali kamu merasa tengkuk kaku minggu ini? Kalau jawabannya hampir setiap hari, mungkin tubuh sudah mengirim surat yang belum kamu baca. Membacanya tidak butuh hari libur, hanya butuh keberanian mendengarkan dan memberi batas pada diri sendiri.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar