Telinga Berdenging Bukan Tanda Ada yang Membicarakan, Sumbernya Di Dalam Bukan Luar

Dengungan yang muncul tiba-tiba memang terasa seperti kabar dari tempat lain, tapi medis menyebutnya tinnitus, respons otak kehilangan sinyal dari telinga.

Bagikan cerita ini:
Ilustrasi telinga berdenging tinnitus

Lagi asik kerja, tiba-tiba telinga kiri berdenging. Sebagian orang langsung penasaran, sebagian lagi memilih mengabaikannya. Tapi ternyata bukan kamu yang lagi jadi topik pembicaraan, dan bukan hal mistis juga. Medis menyebut respons otak yang tidak biasa ini sebagai tinnitus.

Dengungan ini bisa muncul sekali lalu hilang, tapi bisa juga nangkring sampai berhari-hari. Intinya, denging di telinga itu nyata, bisa dijelaskan secara medis, dan punya alasan yang cukup jelas.

Denging di Telinga Sebenarnya Berasal dari Rumah Siput, Bukan dari Langit

Dokter spesialis THT dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Widayat Alviandi, menjelaskan tinnitus sebagai kondisi ketika seseorang mendengar suara tanpa ada sumber bunyi di luar. Suara yang muncul juga tidak selalu berdenging. Ada yang berdesis, ada yang bergemuruh, tapi memang suara berdenging yang paling sering dirasakan.

Secara anatomi, sumbernya juga bukan di luar sana. Bagian koklea atau rumah siput di telinga bagian dalam serta jalur saraf pendengaran jadi biang keroknya. Jadi kalau sel-sel rambut di koklea mulai aus, sinyal listrik yang dikirim ke otak jadi ikut berantakan, dan otak menerjemahkannya sebagai dengungan.

Audiolog Daniel S. Troast dari HearUSA bahkan menilai tinnitus lebih ke kondisi otak daripada gangguan telinga murni. Saat seseorang kehilangan pendengaran, otak berhenti menerima sinyal pada frekuensi tertentu, lalu memproduksi sendiri suara pengganti untuk mengisi keheningan itu.

Bukti yang lebih menyadarkan, sekitar 90 persen orang yang mengalami tinnitus juga sebenarnya punya masalah kehilangan pendengaran. Jadi denging itu seringnya cuma gejala, dan penurunan daya dengar adalah biang aslinya. Mayo Clinic menyebut tinnitus dialami sekitar 15 hingga 20 persen orang, jadi kamu yang pernah mengalaminya jelas tidak sendirian.

Ada dua jenis tinnitus yang perlu dibedakan. Tinnitus objektif hanya sekitar 4 persen dari kasus, dan ini langka karena dokter bisa mendengar suara yang sama dengan penderita lewat pemeriksaan. Sisanya yang 96 persen adalah tinnitus subjektif, di mana hanya penderita yang mendengarnya dan tidak ada alat medis yang bisa mendeteksinya. Ini sebabnya banyak orang menganggapnya cuma sugesti atau hal gaib.

Ilustrasi telinga berdenging tinnitus
Foto oleh RDNE Stock project di Pexels

Bising, Obat, dan Kebiasaan Kecil yang Menjadi Pemicu Tersembunyi

Penyebab paling umum jelas paparan suara keras. Konser musik, bising pabrik, sampai headset dengan volume maksimal bisa merusak sel-sel rambut di koklea secara permanen. Bahkan satu kali paparan suara yang sangat keras saja sudah cukup untuk memicu tinnitus jangka pendek.

Tapi bukan hanya kebisingan. Tumpukan kotoran telinga yang menyumbat liang telinga juga bisa memicu dengungan, begitu juga infeksi telinga tengah dan masalah gigi yang melibatkan sendi rahang. Cedera kepala atau leher, penyakit Meniere, sampai pertumbuhan tulang abnormal di telinga tengah ikut masuk daftar tersangka.

Yang sering tidak disadari adalah obat-obatan. Aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid lainnya dalam dosis tinggi tercatat bisa memicu tinnitus, dan suara itu biasanya hilang setelah obat dihentikan. Jadi sebelum menyalahkan hal mistis, ada baiknya cek dulu jenis obat yang sedang dikonsumsi.

Faktor usia juga memperberat kondisi. Seiring bertambahnya umur, fungsi pendengaran menurun, dan otak merespons penurunan tersebut dengan meningkatkan sensitivitas pemrosesan suara internal. Inilah alasan tinnitus lebih sering muncul di usia matang. Nah, kalau denging muncul lebih dari lima menit atau terjadi minimal dua kali seminggu sampai mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari, ini sudah masuk kategori patologis dan wajib dapat penanganan.

Tinnitus Tidak Bisa Dihilangkan Total, Tapi Bisa Dikelola

Faktanya memang agak pahit. Troast menegaskan tinnitus tidak bisa disembuhkan secara total. Tapi tenang, kondisi ini sangat bisa dikelola, dan banyak penderita bisa kembali menjalani hidup normal tanpa merasa diganggu terus-menerus.

Kalau sudah masuk tahap kronis, yaitu bila bertahan lebih dari enam bulan, biasanya dokter menawarkan kombinasi beberapa perawatan sesuai tingkat keparahan. Alat bantu dengar jadi opsi pertama bila ada gangguan pendengaran yang menyertai, karena memperkuat suara luar bisa menutupi dengungan internal.

Konseling juga jadi bagian penting. Program seperti terapi retraining membantu memahami apa yang terjadi di otak dan mengubah cara bereaksi terhadap dengungan. Untuk kasus yang lebih berat, ada stimulasi saraf akustik dengan perangkat seukuran telapak tangan yang mengirim sinyal akustik tertanam dalam musik, terbukti efektif mengurangi tinnitus pada sejumlah relawan penelitian. Pada kasus gangguan pendengaran parah, implan koklea bisa melompati bagian telinga dalam yang rusak dan langsung merangsang saraf pendengaran.

Ilustrasi pemeriksaan telinga dokter spesialis THT
Foto oleh https://kaboompics.com/ di Pexels

Mencegah Lebih Murah Daripada Mengobati Dengungan Sepanjang Hayat

Sistem pendengaran adalah salah satu mekanisme paling sensitif di tubuh. Karena jadi bagian dari sistem saraf umum, ia ikut terpengaruh oleh kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan, baik fisik maupun psikologis. Stres berat saja sudah cukup mengaktifkan sistem saraf simpatik dan memicu sensasi berdenyut di telinga.

Cara paling jelas mencegah adalah melindungi telinga dari kebisingan. Gunakan pelindung telinga kalau bekerja di lingkungan bising, dan jangan tunggu sampai telinga berdenging baru sadar. Menghindari suara keras sedapat mungkin adalah investasi jangka panjang paling murah.

Satu hal lagi yang sering keliru adalah membersihkan telinga. Telinga sebenarnya punya proses pembersihan otomatis, dan memasukkan cotton bud atau benda asing lain justru mendorong kotoran lebih dalam, makin memadatkannya, dan berisiko merusak gendang telinga. Efek sampingnya bisa termasuk tinnitus yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Terakhir, jangan remehkan infeksi telinga. Mengobati dengan cepat dan tepat sesuai resep dokter mengurangi risiko kerusakan jangka panjang. Kalau denging sudah muncul dan bertahan lama, langsung periksakan ke dokter THT. Penanganan dini menentukan apakah ini cuma pelepasan ketegangan sementara atau tanda kerusakan permanen yang perlu dikelola seumur hidup.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar