Kita Semua Mendengar Terlalu Keras, dan Telinga yang Membayar Lunas
Suara keras kini menyusup lewat headphone, knalpot, sampai orkes kampung yang tiap sudut punya ambangnya sendiri. Telinga kita sebenarnya sudah komplain, cuma sinyalnya sering kita anggap angin lalu.

Suara Keras Ada di Mana-Mana, Tapi Kita Sudah Terbiasa Menyebutnya Hiburan
Pernah nggak sadar volume HP kamu nyangkut di paling atas, terus kamu tetap lanjut dengerin playlist sampai jam ketiga kerja? Atau kamu justru yang di sisi lain, harus menutup telinga tiap lewat konvoi motor dengan knalpot terbuka di lampu merah. Suara keras hari ini bukan lagi peristiwa langka. Dia jadi latar harian, dan otak kita sudah pintar sekali membiaskannya.
Masalahnya, telinga tidak punya kemampuan yang sama dengan otak. Telinga tidak tahu caranya berkompromi. Dia hanya mencatat tekanan suara yang masuk, lalu diam-diam menghitung berapa lama dia akan sanggup menahan beban itu. Sayangnya, perhitungan itu baru terlihat hasilnya setelah kerusakan terjadi.
Cara Telinga Menghitung Paparan Suara, dan Kenapa Kita Selalu Ketinggalan
Satuan ukur telinga adalah desibel, dan aturannya cukup kejam. Kompas mencatat paparan suara sampai 70 desibel masih aman didengar dalam waktu lama, tapi standar lingkungan kerja di banyak negara menetapkan ambang 85 desibel sebagai batas wajib pakai pelindung telinga. Lepas dari angka itu, telinga butuh istirahat, dan durasinya makin lama makin pendek.
Dr. Sabilarrusydi, Sp.THT-KL dari RSUD dr. Soedomo Trenggalek, menjelaskan suara di angka 120 desibel masuk kategori danger area. Hanya boleh didengar sekitar 10 detik, setelah itu wajib menjauh. Jumlah ini bukan angka teoretis. Itu rentang waktu sebelum sel-sel rambut di koklea mulai tertekan hingga akhirnya tak bisa pulih.
Ini bagian yang sering disalahpahami. Banyak dari kita merasa telinga masih sehat karena belum ada keluhan. Padahal peneliti dari The University of Melbourne mengingatkan tanda peringatannya justru hal yang sering dianggap sepele, yaitu dengungan setelah mendengarkan musik keras. Saat telinga berdenging, kerusakan sudah pernah terjadi. Yang tersisa hanya soal apakah dia akan pulih atau menetap permanen.
Kerugian tidak hanya pada pendengaran. Kompas merangkum penelitian Pusat Medis Universitas Charite Berlin yang terbit di European Heart Journal 2005 terhadap 2.000 orang. Hasilnya, kebisingan di atas 60 desibel meningkatkan risiko serangan jantung. Mekanismenya terkait hormon stres adrenalin dan noradrenalin yang ikut naik, lalu mendorong tekanan darah turut naik.
Batas Aman Tidak Tunggal
Angka 85 desibel adalah patokan untuk tempat kerja, bukan untuk konser atau headphone. Permenaker Nomor 5 Tahun 2018 tentang K3 lingkungan kerja menetapkan Nilai Ambang Batas kebisingan 85 desibel untuk paparan maksimal delapan jam sehari atau 40 jam seminggu. Lalu studi London School of Hygiene and Tropical Medicine yang menganalisis 8,6 juta warga London dari 2003 sampai 2010 menemukan, kebisingan lalu lintas siang di atas 60 desibel saja sudah membuat risiko kematian empat persen lebih tinggi dibanding wilayah di bawah 55 desibel.
Yang Paling Berisiko Justru Kelompok yang Merasa Paling Aman
Ada satu kelompok yang nyaris tidak pernah muncul dalam percakapan soal kebisingan, yaitu anak muda. Kajian sistematis di BMJ Global Health yang mengamati 33 studi terbitan 2000 sampai 2021 dengan total 19.040 partisipan menemukan praktik mendengarkan musik tidak aman pada 23,81 persen pengguna perangkat personal, dan 48,2 persen di lokasi hiburan. Peneliti memperkirakan angka itu berarti 1,35 miliar anak muda di seluruh dunia berisiko mengalami kehilangan pendengaran.
Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan lebih dari 430 juta orang di dunia sudah hidup dengan disabilitas pendengaran, dan angka ini bisa berlipat ganda bila pencegahan tak jadi prioritas. WHO sendiri sudah merumuskan standar bersama ITU pada 2019 yang merekomendasikan batas paparan mingguan maksimal 40 jam, dengan volume tidak lebih dari 80 desibel untuk orang dewasa dan 75 desibel untuk anak-anak, plus sistem peringatan di perangkat audio.

Tiga Kebiasaan Kecil yang Bisa Dipangkas Hari Ini
Pertama, cek volume HP tanpa menunggu telinga komplain. Banyak smartphone kini punya layar monitor level audio bawaan, dan cukup sekali dilihat untuk sadar bahwa posisi volume harian kamu sebetulnya sudah jauh di atas anjuran. Kedua, ambil jeda. Bukan harus berhenti dengar musik sama sekali, tapi beri waktu pendengaran pulih setelah sesi panjang, sama seperti otot setelah latihan. Ketiga, pakai pelindung telinga di acara yang sengaja menggandakan volume. Earplug bukan tanda sok santai, dia cuma alat yang murah dan efeknya langsung terasa.
Aturan dan Kebiasaan Tidak Pernah Jalan Sendirian
Indonesia sudah punya pijakan hukum. Permenaker 5/2018 menetapkan ambang kebisingan tempat kerja, dan Kemenkes mengingatkan bahwa paparan melampaui nilai ambang batas bisa berakibat gangguan kesehatan dan keselamatan kerja. ISafety Magazine merangkum penjelasan dokter spesialis okupasi bahwa gangguan ini datang bertahap. Pendengaran turun pelan, kadang pulih lagi, tapi bila dibiarkan terus-menerus bisa menjadi ketulian permanen.
Di sisi lain, pilihan perlindungan juga tidak harus rumit. ISafety Magazine membedakan kedua opsi paling umum. Earmuff menutup seluruh telinga, lebih kokoh, lebih awet, dan cocok untuk lingkungan yang memang membutuhkan perisai ekstra. Earplug masuk ke liang telinga, lebih ringan, mudah dibawa, dan lebih cocok saat kamu juga harus memakai helm atau kacamata pelindung. Keduanya sama-sama efektif kalau dipakai dengan benar, dan sama-sekali tidak berguna kalau hanya digantung di kepala atau disimpan di saku.
Untuk acara musik, penelitian dari National Acoustic Laboratories dan HEARing Cooperative Research Centre di Australia menemukan 13 persen anak muda usia 18-35 tahun di sana rutin terpapar suara melebihi batasan maksimum sektor industri setiap tahunnya. Ini bukan sekadar soal disiplin individu. Lokasi hiburan perlu menyesuaikan volume, dan penelitian 2020 mengidentifikasi praktik pengendalian bahaya di tempat hiburan yang terbukti efektif tanpa membunuh suasana.

Telinga Tidak Minta Banyak, Tapi Dia Minta Konsisten
Hampir semua nasihat soal pendengaran terdengar bosan karena memang sederhana. Turunkan volume, ambil jeda, dan pakai pelindung di tempat yang sengaja membunyikan segalanya kencang. Tiga hal ini bukan larangan menikmati musik. Justru cara agar kamu bisa terus menikmatinya sampai tua.
Yang membuatnya sulit bukan langkahnya, tapi karena telinga tidak pernah memperingatkan dengan cara yang dramatis. Tidak ada rasa sakit yang muncul lebih dulu, tidak ada peringatan layar merah di pinggir telinga. Hanya dengungan kecil yang biasanya hilang sendiri, dan itulah sinyal yang paling sering kita abaikan. Sekarang, saatnya isyarat kecil itu mendapat perhatian sebelum dia benar-benar diam.
Artikel Terkait
Lihat kategori Kesehatan ↗
Tulangmu Membangkang Diam-Diam, dan Satu-Satunya Pengkhianatan Adalah Sunyimu Sendiri
Kepadatan tulang menurun tanpa gejala sampai patah terjadi. Kunci penundaannya bukan sekadar susu, melainkan kombinasi kalsium, vitamin D, protein, dan kaki yang rajin bergerak.
Jam Tujuh Pagi Bersikeras Kamu Sudah Beristirahat, Tubuhmu Bilang Belum
Bangun lelah padahal tidur sudah tujuh atau delapan jam bukan kesalahan kasur. Sebagian besar kerusakan terjadi jauh sebelum kepala menyentuh bantal.
Delapan Jam Duduk Lalu Salahkan Kasur, Saraf Kejepit yang Akhirnya Bicara
Nyeri punggung jarang benar-benar berasal dari saraf yang kejepit. Sebagian besar kasus cuma otot yang kelelahan, ditambah posisi duduk dan bantal yang tanpa sadar mengkhianati tulang belakangmu setiap hari.
Ruang Diskusi & Komentar