Tiga Juta Warga Terpapar Asap Karhutla, Paru Anak-Anak yang Paling Berat Membayarnya
Kasus ISPA melonjak dari 402 menjadi 716 dalam satu minggu di Kalimantan Tengah, dan anak-anak jadi kelompok yang paling berat menanggungnya.

Lebih dari tiga juta warga di 37 kabupaten dan kota terpapar langsung kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang melanda tujuh provinsi pada musim kemarau 2026. Jumlah itu bukan sekadar statistik, karena di baliknya ada ruang oksigen puskesmas yang dibuka 24 jam dan dua warga Serang yang harus dirawat di rumah sakit setelah menghirup abu vulkanik Anak Krakatau.
Lonjakan ISPA Seberapa Besar Sebenarnya
Data Kementerian Kesehatan yang dikutip Universitas Gadjah Mada mencatat 13.449 kasus ISPA dilaporkan sepanjang Juli hingga Agustus 2026 di wilayah terdampak. Lonjakannya cukup tajam. Di Kalimantan Tengah kasus naik dari 402 menjadi 716 dalam satu minggu, atau naik 78,1 persen. Kalimantan Barat mencatat lebih dari 151 ribu kasus sejak Januari 2026, dengan lonjakan tertinggi di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah. Kota Palangka Raya saja melaporkan 66 kasus ISPA dari delapan puskesmas per 17 September 2026.
Jawa Barat ikut terasa. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Raden Vini Adiani Dewi mencatat kenaikan gangguan saluran pernapasan, termasuk influenza-like illness dan severe acute respiratory infection, sejak abu erupsi Anak Krakatau. Beberapa rumah sakit menemukan kasus influenza tipe A dengan gejala yang lebih berat dari flu biasa. Pasien mengeluh demam di atas 40 derajat, lemas, batuk, pilek, dan pegal-pegal. Depok dan Kabupaten Bogor sempat meningkat, meski total kasus masih di bawah batas pemantauan.
Anak-Anak Paling Sering Jadi Korban, Ini Alasannya

Dokter Spesialis Paru dr. Ika Trisnawati dari FK-KMK UGM menjelaskan bahwa saluran pernapasan anak masih berkembang dan diameternya lebih kecil dibandingkan orang dewasa. Akibatnya, sedikit peradangan atau penumpukan dahak saja sudah cukup untuk menyumbat jalan napas mereka. Itu sebabnya anak-anak menempati daftar kelompok yang paling perlu diawasi saat kualitas udara memburuk.
Ketua UKK Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia dr. Wahyuni Indawati menambahkan, abu vulkanik terdiri dari pecahan batuan, mineral, kaca vulkanik, serta gas seperti sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Partikel dan gas itu masuk ke saluran pernapasan saat dihirup, lalu memicu peradangan. Anak yang sudah punya gangguan pernapasan seperti asma dan bronkiektasis bahkan bisa kena serangan akut. Singkatnya, paru anak sedang diserang dari dua arah sekaligus, dari partikel kasar sampai partikel halus yang lebih susah terlihat.
PM2,5 Jauh Lebih Kecil dari Yang Kita Bayangkan
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengingatkan bahwa asap karhutla tidak hanya mengandung PM2,5, tapi juga karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun. Frasa PM2,5 memang sering muncul di pemberitaan, dan ukurannya menjelaskan kenapa partikel ini berbahaya. Partikelnya berdiameter kurang dari 2,5 mikron, jauh lebih kecil dari sehelai rambut manusia, sehingga bisa masuk jauh ke dalam paru dan ikut aliran darah.
Andi juga meluruskan satu kesalahpahaman yang sering muncul. Kata akut pada ISPA merujuk pada durasi penyakit, bukan tingkat keparahannya. Jadi ISPA bukanlah sekadar nama lain untuk flu biasa. Asap juga bisa memicu kekambuhan asma pada penderita yang penyakitnya sudah lama terkontrol, memperburuk PPOK, dan memengaruhi kelompok dengan penyakit kronis seperti jantung, stroke, dan hipertensi.
Dampaknya Tidak Selalu Langsung Terasa Hari Ini

Dokter Spesialis Paru RSUD dr Murjani Sampit dr. Muhammad Taufiqqurahman mengingatkan bahwa terlalu banyak menghirup asap bisa langsung memicu trauma inhalasi dan menurunkan kadar oksigen dalam tubuh. Tapi ada dampak yang baru muncul setelah satu hingga dua tahun, yaitu bronkitis kronis dan kerusakan sel pada saluran pernapasan. Kelompok lanjut usia paling sering baru menyadarinya ketika napas sudah mulai berat saat beraktivitas biasa.
Paparan jangka panjang inilah yang kerap luput dari perhatian. Sebagian besar orang fokus pada kabut asap yang terlihat, padahal penumpukan paparan kecil setiap hari justru yang diam-diam merusak sel-sel saluran pernapasan. Gejala awalnya memang terasa sepele, yaitu napas pendek saat berjalan atau jumlah lendir yang mulai bertambah.
Langkah Perlindungan yang Masih Bisa Dilakukan Sekarang
Ada beberapa langkah yang bisa langsung diambil. Pertama, kurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, terutama aktivitas fisik berat. Kedua, pakai masker yang mampu menyaring partikel halus jika harus keluar rumah. Kemenkes secara khusus menyarankan masker dengan kemampuan filter PM2,5. Ketiga, tutup pintu dan jendela saat kabut asap pekat, dan gunakan penyaring udara jika memungkinkan. Keempat, perbanyak minum air putih untuk menjaga hidrasi.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan kronis butuh perhatian ekstra. Bagi penderita asma dan PPOK, kuncinya adalah tidak menghentikan pengobatan rutan, meski keluhan sedang mereda. Masker gratis dan ruang oksigen 24 jam sudah dibuka di sejumlah puskesmas, dan di Banten cakupan BPJS Kesehatan sudah mencapai 98,84 persen, jadi biaya pengobatan tidak perlu jadi alasan menunda pemeriksaan.
Terakhir, jangan tunggu gejala memburuk. Demam yang tidak turun, dahak yang makin banyak dan berubah warna menjadi kekuningan, sesak napas yang memburuk, sampai nyeri dada adalah tanda untuk segera ke fasilitas kesehatan terdekat. Kemenkes juga mengingatkan agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah, karena kebiasaan kecil ini hanya memperburuk kualitas udara yang sudah parah.
Cerita Ini Belum Sama Sekali Selesai
Pemerintah sudah mengerahkan 314 tenaga kesehatan dan menyalurkan ratusan ribu masker serta 56 unit oxygen concentrator ke wilayah terdampak. Program Oase Udara juga dijalankan untuk memastikan ketersediaan oksigen. Tapi musim kemarau diperkirakan masih berlangsung sampai September 2026, dan selama hutan masih mudah terbakar, kualitas udara akan terus berfluktuasi.
Yang bisa dilakukan sekarang adalah menjaga diri sendiri dan keluarga, terutama anak-anak. Cek indeks standar pencemar udara dari sumber resmi sebelum keluar rumah, pakai masker saat asap mulai mengganggu, dan batasi aktivitas outdoor. Paru anak-anak masih berkembang, dan tidak akan pernah bisa minta tolong sendiri.
Artikel Terkait
Lihat kategori Kesehatan ↗
Tulangmu Membangkang Diam-Diam, dan Satu-Satunya Pengkhianatan Adalah Sunyimu Sendiri
Kepadatan tulang menurun tanpa gejala sampai patah terjadi. Kunci penundaannya bukan sekadar susu, melainkan kombinasi kalsium, vitamin D, protein, dan kaki yang rajin bergerak.
Jam Tujuh Pagi Bersikeras Kamu Sudah Beristirahat, Tubuhmu Bilang Belum
Bangun lelah padahal tidur sudah tujuh atau delapan jam bukan kesalahan kasur. Sebagian besar kerusakan terjadi jauh sebelum kepala menyentuh bantal.
Delapan Jam Duduk Lalu Salahkan Kasur, Saraf Kejepit yang Akhirnya Bicara
Nyeri punggung jarang benar-benar berasal dari saraf yang kejepit. Sebagian besar kasus cuma otot yang kelelahan, ditambah posisi duduk dan bantal yang tanpa sadar mengkhianati tulang belakangmu setiap hari.
Ruang Diskusi & Komentar