TWS Bisa Setel Sampai 120 Desibel, dan Ambang Amanmu Habis dalam Waktu 10 Detik

Headset dan TWS jaman now bisa membanting volume sampai 120 desibel. Ambang batas aman untuk telinga sebenarnya cuma 85 desibel selama 8 jam, dan setiap kenaikan 3 desibel memangkas waktu aman jadi setengahnya.

Bagikan cerita ini:
Sepasang TWS dan headset berada di atas meja kerja, ilustrasi tingkat volume aman untuk pendengaran

Headset Jaman Now Bisa Banting Volume Sampai 120 Desibel

Spesifikasi TWS dan headset sekarang sering menampilkan angka output audio yang besar, dan perangkat audio saat ini bisa menghasilkan tingkat kebisingan hingga 120 dBA. Angka-angka ini diambil dari laman resmi Pusat Studi Medis Universitas Utah.

Perangkat audio modern memang bisa menghasilkan tingkat kebisingan hingga 120 dBA, dan mendengarkan audio pada tingkat kebisingan 120 dBA dapat menyebabkan kerusakan pendengaran dalam hitungan detik. Angka-angka ini diambil dari laman resmi Pusat Studi Medis Universitas Utah.

Masalah utamanya bukan pada perangkatnya, melainkan pada cara kita menggunakannya. Masyarakat perkotaan kerap menyumpal telinga dengan TWS atau earphone saat menunggu LRT, di dalam TransJakarta, atau bahkan sebagai pengantar tidur yang dibiarkan terpasang hingga terbangun.

Seseorang memakai earphone TWS, ilustrasi paparan suara langsung ke liang telinga
Foto oleh Wendell Stoyer di Pexels

Aturan Pertukaran 3 Desibel yang Menentukan Berapa Lama Telinga Aman

Kerangka yang menjelaskan hubungan antara keras suara dan durasi aman diambil dari Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja. Aturan ini menetapkan Nilai Ambang Batas kebisingan sebesar 85 desibel atau dBA untuk paparan maksimal 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.

Setiap kenaikan 3 desibel memangkas waktu aman paparan menjadi separuhnya. Jika 85 desibel boleh didengarkan selama 8 jam, maka 88 desibel hanya 4 jam, 91 desibel tinggal 2 jam, 94 desibel tersisa 1 jam, dan 97 desibel cukup setengah jam saja. Tabel ini dipaparkan langsung oleh dokter THT RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr. Sabilarrusydi, Sp.THT-KL.

Tabel ini menunjukkan bahwa angka 120 desibel memang masuk kategori zona berbahaya, dan hanya aman didengar sekitar 10 detik. Setelah batas itu kita sebenarnya sedang berjalan melewati ambang batas kemampuan sel rambut di telinga bagian dalam, tanpa rasanya.

Logika waktu paparan ini menjelaskan kenapa kerusakan akibat kebisingan bisa datang dari hal-hal yang terasa sangat wajar sehari-hari, seperti mendengarkan musik di kamar yang dianggap sunyi, atau memakai earphone dengan volume yang menurut kita masih biasa saja.

Kehilangan pendengaran akibat paparan suara keras bersifat kumulatif seumur hidup. Jika pernah mengalami perubahan pendengaran sementara, di masa mendatang kita bisa mengalami gangguan pendengaran pada tingkat dan waktu paparan yang lebih rendah. Kerusakan pertama sering tidak terasa karena otak memiliki cadangan penyesuaian yang lumayan besar.

Mengapa Telinga Kita Punya Cadangan, dan Cadangan Itu Terbatas

Penjelasan kerusakan kumulatif di atas diambil dari Pusat Studi Medis Universitas Utah. Pendekatan yang digunakan Kate Johnson, profesional medis di bidang audiologi pada universitas tersebut, menekankan bahwa semakin keras suara yang didengarkan telinga dari perangkat audio, maka semakin cepat pula kerusakan terjadi.

Penjelasan terperinci mengenai kerusakan akibat bising juga dijelaskan dalam konsep noise-induced hearing loss, yaitu kondisi yang membahas batasan tertentu tergantung pada besarnya desibel atau kuatnya bising yang masuk. Konsep ini dipaparkan oleh dr. Harim pada rilis berita mengenai kebiasaan mendengarkan musik hingga tertidur.

Mengapa Telinga Tidak Memberi Peringatan Lebih Dulu

Bagian telinga yang pertama kali menerima beban adalah koklea atau rumah siput, struktur berisi cairan yang jumlah sel rambutnya sudah ditentukan sejak lahir dan tidak bisa diperbaharui.

Ketika kita tertidur dengan earphone masih terpasang, koklea tetap menerima energi suara getaran itu berjam-jam, padahal otak tidak lagi memproses sinyal suara sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan. Kondisi ini disebut dr. Harim sebagai kebiasaan terburuk yang bisa dilakukan pada organ pendengaran, karena beban terus bekerja tanpa ada moment istirahat.

Hal ini menjelaskan satu kemiringan kecil dalam kebiasaan ini, yaitu kenapa telinga tidak memperingatkan lebih dulu. Saat otak sedang sibuk menyerap suara, ia menekan sinyal ketidaknyamanan dari telinga. Ketika sadar, kerusakan sudah berjalan beberapa tahap.

Pemeriksaan kesehatan telinga di klinik, ilustrati deteksi dini gangguan pendengaran
Foto oleh https://kaboompics.com/ di Pexels

Aturan 60-60 dari Kemenkes dan Cara Pakai Tabel 85 Desibel

Kementerian Kesehatan memperkenalkan prinsip safe listening yang lebih mudah diingat, yaitu aturan 60-60. Artinya volume maksimal 60 persen, tidak boleh kencang-kencang, dan setiap 60 menit menggunakan earphone harus diistirahatkan. Prinsip ini disampaikan oleh Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, pada peringatan Hari Pendengaran Sedunia.

Aturan 60-60 ini merupakan versi sederhana dari tabel pertukaran 3 desibel di atas. Maksudnya bukan melarang kita mendengarkan musik, melainkan menjaga beban harian tetap di bawah ambang yang sudah ditentukan.

Mengenai pengukuran, suara di tempat bermain di mall bisa tembus 90 desibel lebih, dan dapat dicek menggunakan aplikasi sound level meter di ponsel. Instal aplikasi itu, biarkan ponsel merekam beberapa saat, lalu bandingkan dengan tabel 85 desibel di atas. Hasilnya sering mengejutkan.

Untuk Pengguna TWS, satu cara mengukur yang lebih realistis adalah atur volume ke tingkat di mana kita masih bisa mendengar orang lain berbicara di sebelah kita. Jika harus menutup telinga lainnya untuk mengerti lawan bicara, volume itu sudah melewati batas wajar.

Tanda-Tanda Telinga Sudah Menerima Beban Terlalu Banyak

Beberapa gejala gangguan pendengaran akibat penggunaan headset atau TWS dengan volume tinggi bisa diamati langsung. Telinga berdenging setelah melepas earphone merupakan tanda yang paling sering, dan ini bukan hal yang lumrah meskipun sering dianggap biasa.

Sensasi tertekan pada telinga, seperti perasaan penuh atau tekanan pada telinga, juga merupakan gejala yang umum. Jika frekuensi timbulnya makin sering, itu pertanda beban harian sudah terlampau tinggi.

Selain itu, keharusan menaikkan volume pada scene yang sama merupakan indikator yang sering luput. Kalau scene yang dulu terasa cukup pada volume 40 persen sekarang butuh 60 persen, itu artinya ambang kenyamanan telinga sudah bergeser.

Gejala-gejala ini bisa terjadi tanpa rasa sakit. Organ pendengaran memang minim reseptor nyeri, sehingga kerusakannya bisa berjalan diam-diam. Karena itulah pencegahan jauh lebih penting daripada menunggu gejala sebagai peringatan.

Gaya Hidup Pendengaran Aman Tanpa Harus Berhenti Mendengarkan

Langkah pertama, gunakan aturan 60-60 sebagai patokan harian. Volume maksimal 60 persen, dan setiap 60 menit memberi telinga kesempatan beristirahat sejenak. Ini bukan pembatasan yang menyiksa, melainkan cara menjaga agar beban harian tetap di bawah ambang yang sudah ditentukan.

Langkah kedua, jangan jadikan earphone sebagai pengantar tidur. Selama kita tertidur, koklea tetap menerima getaran suara berjam-jam tanpa proses pemrosesan di otak. Inilah skenario terburuk yang dapat diterima oleh organ pendengaran.

Langkah ketiga, ganti earphone biasa dengan model tertentu yang membuka ruang di sekitar saluran telinga, atau aktifkan mode transparan jika perangkat mendukung. Membuka ruang di sekitar saluran telinga mengurangi efek sealed yang membuat volume terasa lebih kecil dari sebenarnya.

Langkah keempat, ukur lingkungan. Di konser atau hajatan, panitia sebaiknya mengukur dengan sound level meter, dan jika telinga merasa tidak nyaman segeralah menjauh. Pada level 120 desibel, waktu aman tersisa hanya sekitar 10 detik.

Terakhir, lakukan pemeriksaan pendengaran secara berkala, terutama bagi yang memakai perangkat audio lebih dari empat jam sehari. Pemeriksaan pendengaran merupakan prosedur medis standar yang sangat dianjurkan, dan pergeseran ambang pendengaran dapat dideteksi jauh sebelum mengganggu komunikasi sehari-hari.

Bagikan cerita ini:

Ruang Diskusi & Komentar