Umur Baru 21, Kolesterol 270, dan Mager yang Akhirnya Menyerang Pembuluh Darah
Cuitan viral tentang kadar kolesterol 270 mg/dL di usia 21 tahun ternyata bukan kasus tunggal, karena kelompok usia 15 sampai 24 justru paling dominan di survei nasional.

"Umur 21, kolesterol 270." Cuitan itu meledak di linimasa X suatu hari, dan pemiliknya cuma bisa geleng-geleng sendiri sambil bertanya kepada warganet, gejala apa yang sebenarnya sedang dia alami. Angka 270 itu bukan salah ketik. Satu dekade lalu, angka semacam itu identik dengan pasien usia 50-an yang sudah berkali-kali masuk ruang perawatan. Sekarang pemiliknya baru saja selesai masa remaja.
Yang membuat cuitan ini jadi pembicaraan adalah karena ceritanya terlalu dekat dengan keseharian kita. Gorengan di pinggir jalan setiap pulang kerja, nasi padang dengan santan kentalnya, minuman manis kemasan, lalu sisa hari dihabiskan di kasur dengan ponsel di tangan. Badan terlihat biasa saja dan tidak gemuk, tapi hasil tes darah bicara lain.
Kelompok Usia 15 sampai 24 Justru Paling Dominan di Survei Nasional
Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 membenarkan bahwa kekhawatiran ini bukan sekadar satu kasus viral. Justru kelompok usia 15 sampai 24 tahun yang mendominasi prevalensi kolesterol tinggi secara nasional. Data yang sama menunjukkan risiko sudah muncul sejak usia 20 hingga 30 tahun, dengan 7,8 persen individu usia 25 sampai 34 tahun tercatat memiliki kolesterol tinggi, lalu naik menjadi 11,1 persen di kelompok usia 35 sampai 44 tahun.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari RS Siloam Lippo Village, dr. Nicolaus Novian Dwiya Wahjoepramono, menilai tren ini sebagai sinyal bahaya yang tidak boleh diremehkan. Penyebab dominannya punya nama jelas: pola hidup sedentari atau malas bergerak, konsumsi makanan berlemak tinggi, kebiasaan merokok, sampai penggunaan minyak goreng yang dipakai berulang.
Gen Memang Ikut Bicara, Tapi Gaya Hidup Sejak Kecil yang Menentukan
dr. Aru Ariadno mengingatkan bahwa faktor genetik memang berperan, tapi kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak yang dibentuk sejak masa kanak-kanak justru menjadi pemicu utamanya. Ditambah kebiasaan berhari-hari rebahan, main game, atau menonton tanpa gerak berarti, akumulasi lemaknya berjalan tanpa pernah diumumkan.
Pola yang sama terlihat dari seberang lautan. Centers for Disease Control mencatat seperempat orang dewasa muda di Amerika Serikat, yaitu pria usia 20 sampai 35 atau wanita 20 sampai 45 tahun, sudah mengalami peningkatan kadar kolesterol. dr. Kartika Mayasari bahkan menyebut stroke yang selama ini dianggap penyakit orang tua bisa menyerang sejak usia 20 tahun.

Kolesterol Tinggi Tidak Memberi Tanda, dan Itu Biang Masalahnya
Banyak penyakit memberi sinyal terlebih dahulu. Kolesterol tidak. Karena itulah ia kerap dijuluki silent killer. Gejalanya lebih sering tidak tampak, dan banyak orang baru menyadari kondisinya setelah medical check up, atau setelah penyakit lain muncul lebih dulu seperti darah tinggi dan diabetes.
Ambangnya juga punya angka yang jelas. Kolesterol total dikatakan tinggi jika melebihi 200 mg/dL. dr. Rudy Kurniawan merinci lebih jauh soal risiko penyakit jantung: LDL atau kolesterol jahat mulai berisiko di atas 130 mg/dL dan lebih berisiko lagi jika melebihi 160 mg/dL, HDL atau kolesterol baik sebaiknya tidak di bawah 40 mg/dL untuk pria dan 50 mg/dL untuk wanita, sedangkan trigliserida di atas 150 mg/dL.
Angka-angka ini bukan sekadar formalitas laboratorium. dr. Rudy menegaskan bahwa aterosklerosis atau penumpukan plak di dinding pembuluh darah bisa dimulai sejak usia 20-an jika gaya hidup tidak sehat dipertahankan. Plak ini diam, menumpuk perlahan, dan tidak pernah memberi tahu pemiliknya.
Lima sampai Lima Belas Tahun, dan Pembuluh Darah Mulai Sempit
Pertanyaan yang sering muncul adalah berapa lama proses ini berjalan. Jawabannya cukup menampar. Dalam 5 sampai 15 tahun, tergantung gaya hidup dan faktor genetik, kolesterol tinggi yang tidak dikendalikan bisa menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Ujungnya nyeri dada atau angina, serangan jantung, atau stroke.
Inilah yang membuat kasus viral di awal tadi terasa begitu dekat. Seseorang di usia 21 dengan kadar 270 mg/dL, jika tidak ada perubahan apa pun, berpotensi menghadapi konsekuensi serupa di usia 30-an. Padahal usia tersebut seharusnya menjadi masa paling produktif dalam hidup.
dr. Vito Damay menyebut penyebabnya sering kali sederhana dan berulang, yaitu kegemukan, kurang olahraga, serta pola makan yang terlalu banyak gula dan junk food. Kalori berlebih yang tidak diimbangi gerak akan berubah menjadi lemak, dan lemak itu punya alamat tetap di dinding pembuluh darah.

Langkah Kecil yang Realistis, Karena Tidak Semua Orang Bisa Jadi Atlet Mendadak
Kabar baiknya, perbaikan tidak harus dimulai dengan langsung joging 10 kilometer atau membuang seluruh isi kulkas. dr. Ida Gunawan, dokter spesialis gizi klinik, menyarankan langkah yang lebih masuk akal. Pertama, perbanyak serat dari sayur, buah, dan biji-bijian. Kedua, batasi lemak jenuh dan pilih lemak sehat seperti alpukat serta minyak zaitun. Ketiga, kurangi karbohidrat olahan berbasis tepung seperti roti putih yang bisa meningkatkan trigliserida.
Soal lauk, alternatifnya cukup banyak dan tidak membosankan. Ayam tanpa kulit, ikan, dan kacang-kacangan bisa menjadi pengganti daging berlemak, sosis, atau hot dog. Cara memasak juga menentukan, karena dibakar, dipanggang, atau direbus jauh lebih ramah daripada digoreng, terutama dengan minyak yang dipakai berulang.
Pilihan minyaknya juga ada aturannya. Pakai minyak zaitun, kanola, jagung, bunga matahari, wijen, atau kedelai, dan hindari minyak kelapa sawit. Serat bisa datang dari oatmeal serta roti gandum, sementara vitamin C dari pepaya, anggur, jeruk, dan brokoli plus vitamin E dari almon dan kacang tanah membantu dari sisi lain.
Gerak tubuhnya pun tidak perlu dramatis. Aktivitas fisik ringan sebanyak lima kali dalam seminggu sudah disarankan sebagai langkah preventif. Yang juga penting dan sering luput adalah mulai cek kolesterol sejak usia 20 tahun. American Heart Association menganjurkan pemeriksaan jantung dasar di usia tersebut, dan jika hasilnya normal, pemeriksaan ulang bisa dilakukan setiap 4 sampai 6 tahun.
Panca Usaha SEHAT yang ditekankan dr. Budhi Setianto masih menjadi ringkasan paling jelas, yaitu seimbang gizi, enyahkan rokok, awasi tekanan darah, gula darah, dan lemak darah, lalu teratur olahraga terukur. dr. Nicolaus menutupnya dengan pengingat sederhana bahwa gaya hidup sehat adalah investasi jangka panjang, dan kesadaran itu bisa dimulai dari diri sendiri.
Penutup, Angka 270 Bukan Vonis tapi Undangan untuk Berganti Jalur
Cerita viral di linimasa itu bukan alarm kosong. Ia mengingatkan bahwa kolesterol tidak lagi menghitung usia, dan pembuluh darah tidak peduli dengan penampilan luar. Yang dihitung adalah apa yang masuk ke piring setiap hari dan berapa banyak tubuh bergerak.
Lain kali gorengan di pinggir jalan mulai menggoda, atau kasur terasa lebih bersahabat daripada lantai, ingat satu hal. Plak di pembuluh darah sedang menumpuk pelan tanpa memberi tanda, dan ia tidak sabar menunggu kita siap.
Sumber Rujukan Utama
Artikel ini disusun dari laporan CNA Indonesia tentang anak muda yang kini langganan kolesterol tinggi, laporan detikHealth tentang berapa lama kolesterol tinggi bisa memicu penyakit jantung serta kasus umur 21 dengan kadar kolesterol 270, laporan KlikDokter tentang penyebab kolesterol tinggi di usia muda, dan laporan Parapuan tentang data Survei Kesehatan Indonesia 2023.
Artikel Terkait
Lihat kategori Kesehatan ↗
Tulangmu Membangkang Diam-Diam, dan Satu-Satunya Pengkhianatan Adalah Sunyimu Sendiri
Kepadatan tulang menurun tanpa gejala sampai patah terjadi. Kunci penundaannya bukan sekadar susu, melainkan kombinasi kalsium, vitamin D, protein, dan kaki yang rajin bergerak.
Jam Tujuh Pagi Bersikeras Kamu Sudah Beristirahat, Tubuhmu Bilang Belum
Bangun lelah padahal tidur sudah tujuh atau delapan jam bukan kesalahan kasur. Sebagian besar kerusakan terjadi jauh sebelum kepala menyentuh bantal.
Delapan Jam Duduk Lalu Salahkan Kasur, Saraf Kejepit yang Akhirnya Bicara
Nyeri punggung jarang benar-benar berasal dari saraf yang kejepit. Sebagian besar kasus cuma otot yang kelelahan, ditambah posisi duduk dan bantal yang tanpa sadar mengkhianati tulang belakangmu setiap hari.
Ruang Diskusi & Komentar